Akhirnya Warga Miskin Jember Punya Dokter Pribadi Lewat Layanan Homecare, Pertama di Indonesia!

Gus Fawait meninjau armada mobil homecare di halaman Dinkes Jember, Kamis (23/7/2026). (Foto: Zainul Hasan - ZONA INDONESIA)
Gus Fawait meninjau armada mobil homecare di halaman Dinkes Jember, Kamis (23/7/2026). (Foto: Zainul Hasan - ZONA INDONESIA)

JEMBER – Ketimpangan akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat kalangan bawah di Kabupaten Jember mulai menemui babak baru.

Pemkab Jember resmi menghadirkan layanan homecare, sebuah terobosan medis jemput bola yang memungkinkan warga kurang mampu mendapatkan fasilitas pemeriksaan kesehatan langsung di rumah mereka layaknya memiliki dokter pribadi.

Layanan inovatif ini diawali melalui prosesi soft launching di Kantor Dinas Kesehatan Jember pada Kamis (23/7/2026), sebelum diresmikan secara penuh di Puskesmas Sumberbaru pada Jumat (24/7/2026).

Bupati Jember, Muhammad Fawait, menegaskan bahwa program homecare ini dirancang khusus untuk mengikis jurang pemisah antara kelompok mampu dan warga yang selama ini kesulitan menjangkau fasilitas kesehatan.

“Kalau mereka yang mampu punya dokter keluarga, Jember mewujudkan keluarga yang tidak mampu mempunyai dokter pribadi atau dokter keluarga lewat pelayanan homecare,” ujar Bupati yang akrab disapa Gus Fawait tersebut.

Ia mengklaim, skema pelayanan kesehatan warga miskin berbasis kunjungan rumah yang digagas pemerintah daerah ini merupakan yang pertama kali diterapkan di Indonesia.

“Ini pertama kali di Indonesia dan kita boleh berbangga,” lanjutnya.

Dukungan Mobil Dinas OPD

Tak main-main dalam mengeksekusi program ini, Pemkab Jember menyiagakan sebanyak 1.200 tenaga kesehatan (nakes).

Seluruh nakes akan dibekali Standard Operating Procedure (SOP) khusus guna memastikan standar pelayanan medis yang diberikan tetap profesional dan merata di seluruh pelosok.

Sementara untuk urusan mobilitas, petugas di lapangan akan disokong oleh 10 unit armada operasional baru.

Demi efisiensi anggaran, sisanya memanfaatkan optimalisasi kendaraan dinas dari berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang selama ini kurang dimaksimalkan penggunaannya.

“Ada Grand Livina, Innova dan macam-macam, karena memang masing-masing OPD ya,” ungkap Gus Fawait.

Di sisi lain, Gus Fawait tidak menampik bahwa program skala besar yang baru berjalan ini masih berpotensi menghadapi kendala teknis di tahap awal.

Oleh karena itu, evaluasi berkala akan terus dilakukan.

“Tentu di awal-awal pasti ada kekurangan dan lain sebagainya. Pasti ada sesuatu yang miss. Kita akan terus berbenah,” pungkasnya.

Penulis: Zainul Hasan – ZONA INDONESIA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *