SITUBONDO — Malam itu, Kamis (16/7/2026), suasana Kampung Barat, Desa Asembagus, biasanya tenang seperti malam-malam lainnya.
Namun sekitar pukul 19.30 WIB, ketenangan itu pecah oleh teriakan minta tolong dan kepulan asap tebal yang membumbung dari dapur rumah Suwarjo, seorang nenek berusia 70 tahun yang tinggal seorang diri.
Rohimatul Jannah, keponakan Suwarjo yang kebetulan berada di ruang tamu, adalah orang pertama yang menyadari bahaya.
Perempuan 46 tahun itu terkejut melihat api sudah membesar di bagian belakang rumah.
Tanpa pikir panjang, ia menggandeng bibinya keluar rumah, membawanya ke tempat aman, sambil berteriak sekuat tenaga memanggil warga sekitar.
Teriakan itu membangunkan kampung.
Satu per satu warga berdatangan, membawa ember dan apa saja yang bisa dipakai memadamkan api.
Namun kobaran yang sudah membesar itu tak mudah dijinakkan seadanya, api justru merambat ke rumah tetangga di bagian belakang, milik Syarifuddin (47), hingga akhirnya dua rumah sekaligus dilalap si jago merah.
Di tengah kepanikan, sebagian warga berlari mencari sinyal untuk menghubungi petugas pemadam kebakaran.
Tak lama, satu unit Damkar yang disiagakan di Kecamatan Asembagus tiba, disusul bantuan dari Mako Situbondo Kota.
Butuh waktu sekitar satu setengah jam bagi petugas untuk benar-benar menjinakkan api, hingga akhirnya padam total sekitar pukul 21.00 WIB.
Syukurlah, tak ada korban jiwa maupun luka dalam peristiwa yang mencekam ini.
Bagi Suwarjo, kebakaran ini bukan sekadar kehilangan rumah.
Bangunan semi permanen berukuran 10 x 6 meter miliknya rusak total dan bersamanya hilang pula uang tunai sekitar Rp10 juta serta perhiasan emas seberat 95 gram yang mungkin adalah simpanan hidupnya.
Total kerugian yang dialaminya ditaksir mencapai Rp220 juta.
Syarifuddin pun tak luput dari duka serupa.
Dua rumahnya yang terbakar meninggalkan kerugian sekitar Rp70 juta.
Jika ditotal, kerugian kedua keluarga ini mencapai sekitar Rp290 juta, angka yang menggambarkan betapa cepatnya sebuah kehidupan bisa berubah dalam hitungan menit.
Warga Gotong Royong
Meski dini hari itu diwarnai duka, semangat gotong royong warga Asembagus justru bersinar.
Camat Asembagus, aparat Polsek dan Koramil setempat, tim Pusdalops dan TRC BPBD Situbondo, Satpol PP, Tagana, hingga Kepala Desa beserta perangkatnya turun langsung ke lokasi—memastikan tak ada yang dibiarkan sendirian menghadapi musibah ini.
BPBD Kabupaten Situbondo memastikan proses pengkajian kebutuhan pascabencana akan segera dilakukan, sebagai langkah awal sebelum bantuan logistik disalurkan kepada Suwarjo dan Syarifuddin untuk memulai kembali hidup mereka yang malam itu berubah dalam sekejap.
“Data diatas masih data awa, kalau ada perkembanganinformasi akan kami laporkan lagi,” ucap Kepala Pusdalops PB-BPBD Situbondo, Puriyono.
Penulis: Fathur Rozi – ZONA INDONESIA












