SITUBONDO — Pemerintah Kabupaten Situbondo membuka peluang investasi untuk pengembangan kawasan Wisata Bahari Pantai Pasir Putih melalui skema kerja sama pemanfaatan (KSP).
Sedikitnya Rp40 miliar investasi ditargetkan masuk dalam lima tahun untuk mendorong Pasir Putih menjadi destinasi wisata berkelas dunia.
Kerja sama tersebut dirancang dengan jangka waktu hingga 30 tahun.
Sementara nilai aset kawasan Pasir Putih yang menjadi objek kerja sama diperkirakan mencapai Rp143,5 miliar, mencakup aset tanah, bangunan, dan aset lainnya.
Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, mengatakan keterlibatan investor dibutuhkan untuk menghadirkan pengelolaan kawasan wisata yang lebih profesional sekaligus memberikan pengalaman baru bagi wisatawan.
Namun, pengembangan tersebut dipastikan tidak akan menghilangkan identitas Pasir Putih yang telah dikenal luas selama puluhan tahun.
“Brand-nya tetap Pasir Putih. Nama Pasir Putih sudah melegenda dan tidak perlu diganti. Yang kita lakukan adalah memberikan wajah baru, kualitas baru, dan pengalaman baru kepada wisatawan melalui pengelolaan yang lebih profesional,” ujar Mas Rio dalam konferensi pers di Pantai Pasir Putih Situbondo, Selasa (11/8/2026).
Menurutnya, posisi Pasir Putih yang berada di jalur Pantura menjadi salah satu modal penting dalam pengembangan kawasan.
Pasir Putih dinilai memiliki peluang terhubung dengan sejumlah destinasi wisata lain di Jawa Timur hingga Bali.
Potensi tersebut terlihat dari travel pattern Bromo–Besuki–Argopuro–Pasir Putih–Ijen–Baluran hingga Bali.
Penguatan konektivitas kawasan juga dinilai dapat semakin membuka peluang pengembangan destinasi tersebut.
“Kami tidak melihat Pasir Putih sebagai destinasi yang berdiri sendiri.
Pasir Putih akan menjadi bagian dari ekosistem pariwisata dan konektivitas kawasan.
Ini yang membuat kami optimistis peluang investasinya sangat besar,” kata Mas Rio.
Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Situbondo sekaligus Ketua Tim KSP, Edy Wiyono, mengatakan kawasan wisata yang ditawarkan memiliki luas sekitar 15,4 hektare, sedangkan total kawasan mencapai 18,4 hektare.
Sejumlah aset eksisting juga tersedia di dalam kawasan, di antaranya Hotel Sidomuncul 1, Hotel Sidomuncul 2, Papin In, Wisda Rengganis, pintu wisata, serta sejumlah fasilitas pendukung lainnya.
Pemkab Situbondo membuka ruang bagi calon investor untuk mengembangkan konsep wisata secara terintegrasi.
Pengembangan dapat mencakup hotel dan resort, restoran, kafe, beach club, sport tourism, diving, wisata bahari, rekreasi keluarga, hingga penyelenggaraan event.
“Konsepnya bukan sekadar mengelola pantai. Kami membuka peluang kepada mitra untuk membangun integrated coastal tourism,” ujar Edy.
Dalam skema KSP tersebut, investor diwajibkan memberikan kontribusi tetap kepada Pemkab Situbondo dengan nilai minimum Rp1,5 miliar setiap tahun.
Besaran kontribusi dapat meningkat mengikuti pertumbuhan ekonomi dan ketentuan yang disepakati dalam perjanjian kerja sama.
Selain kontribusi tetap, kerja sama juga menerapkan mekanisme profit sharing dengan komposisi 51 persen untuk Pemkab Situbondo dan 49 persen untuk mitra investor.
Ketua Tim Percepatan Investasi Kabupaten Situbondo, Riza Rachman, mengatakan komunikasi awal dengan sejumlah calon investor telah dilakukan.
Saat ini terdapat sekitar 7 hingga 10 calon investor yang telah berkomunikasi dengan tim investasi.
Calon investor tersebut berasal dari perusahaan yang memiliki pengalaman di sektor perhotelan, kawasan wisata, taman hiburan, serta bidang lain yang berkaitan dengan pariwisata.
Pemkab Situbondo tetap membuka peluang bagi BUMN, BUMD maupun perusahaan swasta nasional, termasuk perusahaan terbuka yang memiliki kapasitas finansial dan pengalaman dalam mengelola destinasi wisata.
“Kami tidak hanya mencari investor yang mampu menanamkan modal, tetapi mitra yang memiliki visi jangka panjang untuk membangun destinasi. Pasir Putih membutuhkan pengalaman, inovasi, teknologi, jaringan pemasaran, dan kemampuan pengelolaan kelas profesional,” kata Riza.
Pengembangan melalui skema KSP diharapkan memberikan dampak lebih luas terhadap perekonomian masyarakat.
Selain meningkatkan pendapatan asli daerah, investasi tersebut ditargetkan membuka lapangan kerja dan menggerakkan UMKM serta sektor perdagangan, kuliner, transportasi, jasa, industri kreatif, dan akomodasi.
Pemkab Situbondo juga berharap pengembangan Pasir Putih dapat memperpanjang lama tinggal wisatawan sekaligus menjadikan kawasan tersebut sebagai salah satu pintu masuk wisatawan untuk mengeksplorasi berbagai destinasi di Situbondo dan wilayah sekitarnya.
“Kami ingin Pasir Putih kembali menjadi kebanggaan Situbondo, tetapi dengan standar pengelolaan yang lebih modern. Pemerintah membuka pintu bagi mitra terbaik. Kami punya aset, lokasi, sejarah, pasar dan masa depan. Sekarang waktunya kita bangun Pasir Putih bersama,” pungkas Mas Rio.












