JEMBER – Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) bank umum di wilayah Sekarkijang hingga posisi 31 Juli 2026 mencapai Rp9,64 triliun atau tumbuh 7,27 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Pertumbuhan ini terutama didorong oleh lonjakan penyaluran KUR di Kabupaten Lumajang sebesar 19,35 persen, Situbondo 16,09 persen, dan Banyuwangi 11,59 persen.
Sebaliknya, penyaluran KUR di Kabupaten Jember dan Bondowoso mengalami kontraksi masing-masing sebesar 0,31 persen dan 6,96 persen.
Berdasarkan jenis program, penyaluran kredit pemerintah di Sekarkijang masih didominasi oleh KUR mikro yang mencapai Rp6,77 triliun atau sekitar 70,20 persen dari total KUR.
Sementara itu, KUR kecil tercatat sebesar Rp2,86 triliun dan KPR subsidi termasuk FLPP sebesar Rp5,17 triliun.
Total kredit perbankan yang mengalir ke sektor UMKM mencapai Rp27,23 triliun atau mengambil porsi 42,8 persen dari total kredit bank umum.
Berdasarkan kelompok pengelola, penyaluran kredit bank umum di wilayah Sekarkijang masih didominasi oleh Bank BUMN dengan outstanding kredit mencapai Rp36,39 triliun atau 57,15 persen dari total kredit.
Bank BUMN mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 15,28 persen (yoy), diikuti bank milik asing 5,41 persen, dan BUMD 3,13 persen.
Sementara Bank Swasta Nasional menyalurkan Rp17,06 triliun meski mengalami kontraksi 13,22 persen.
Dilihat dari alokasi sektor ekonomi, penyaluran kredit bank umum paling banyak mengalir ke sektor rumah tangga senilai Rp21,90 triliun (34,40 persen), diikuti perdagangan besar dan eceran Rp16,56 triliun (26,00 persen), pertanian Rp10,22 triliun (16,05 persen), serta industri pengolahan Rp7,10 triliun (11,50 persen).
Kredit pada sektor perdagangan besar dan eceran serta industri pengolahan terkontraksi masing-masing 1,01 persen dan 4,27 persen akibat melemahnya daya beli dan penundaan investasi.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kabupaten Jember, Aris Budiman, menegaskan bahwa penyaluran kredit ke depan harus difokuskan pada sektor-sektor yang aman dan berprospek baik.
“Ke depan penyaluran kredit perlu terus diarahkan pada sektor-sektor produktif yang memiliki prospek pertumbuhan baik dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian guna menjaga kualitas aset dan menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di wilayah Sekar kijang,” tegas Aris Budiman.
Dari sisi kualitas kredit, sektor perdagangan besar dan eceran saat ini mencatat rasio NPL tertinggi sebesar 14,52 persen, disusul industri pengolahan 8,26 persen, dan pertanian 5,70 persen.
“Sebaliknya, sektor rumah tangga mencatatkan tingkat risiko paling aman dengan NPL hanya 2,22 persen,” pungkas Aris Budiman.
Penulis: Zainul Hasan – ZONA INDONESIA













