JEMBER – Perekonomian di wilayah Sekarkijang yang meliputi Kabupaten Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang kian menguat pada triwulan II tahun 2026 dengan seluruh kabupaten membukukan pertumbuhan di atas 5 persen.
Banyuwangi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 6,09 persen, disusul Jember 5,90 persen, dan Bondowoso 5,83 persen.
Capaian tiga daerah tersebut berhasil melampaui laju pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang berada di angka 5,72 persen serta nasional sebesar 5,29 persen, sementara Lumajang tumbuh 5,68 persen dan Situbondo 5,24 persen.
Laju pertumbuhan ini melanjutkan tren positif dari kondisi spasial tahun 2025, di mana ekonomi Sekarkijang tumbuh rata-rata di atas laju nasional yang berada pada level 5,11 persen.
Pada 2025, Banyuwangi unggul dengan pertumbuhan 5,65 persen, PDRB per kapita Rp67,08 juta, dan angka kemiskinan terendah sebesar 6,13 persen.
Sebaliknya, Bondowoso dan Situbondo masih menghadapi tantangan pemerataan dengan tingkat kemiskinan masing-masing 12,20 persen dan 11,17 persen.
Di sektor perbankan, fungsi intermediasi hingga 31 Juli 2026 terus bergerak positif.
Outstanding kredit bank umum mencapai Rp63,67 triliun atau tumbuh 4,16 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Pendorong utama kredit datang dari sektor investasi yang melesat 19,73 persen dan kredit konsumsi sebesar 3,83 persen.
Namun, kredit modal kerja terkontraksi 0,47 persen, menandakan penyaluran pembiayaan ke sektor usaha produktif masih terbatas.
Dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) bank umum melonjak kuat 19,38 persen (yoy) menjadi Rp58,04 triliun.
Peningkatan ini didorong oleh lonjakan simpanan giro sebesar 80,20 persen dan deposito 11,07 persen.
Jember mencatatkan lonjakan DPK tertinggi sebesar 53,14 persen, sedangkan Bondowoso terkontraksi 43,69 persen.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kabupaten Jember, Aris Budiman, menjelaskan bahwa kondisi likuiditas perbankan di wilayah Sekarkijang saat ini sangat memadai untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
“Ke depan ruang ekspansi kredit masih terbuka dengan dukungan likuiditas yang memadai namun perlu diimbangi dengan pengelolaan risiko kredit yang prudent guna menjaga kualitas aset perbankan,” ujar Aris Budiman.
Kualitas aset perbankan sendiri masih memerlukan perhatian setelah rasio Non-Performing Loan (NPL) bank umum Sekarkijang berada di angka 6,77 persen, dengan NPL tertinggi di Situbondo mencapai 29,87 persen akibat masalah pembiayaan debitur korporasi serta penurunan outstanding kredit.
“Sementara itu, rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) wilayah Sekarkijang berada di posisi 109,70 persen,” pungkas Aris Budiman.
Penulis: Zainul Hasan – ZONA INDONESIA













