JEMBER – Reformasi 1998 menjadi titik balik bagi banyak anak muda di Indonesia, termasuk Ahmad Halim. Di tengah perubahan besar bangsa, pria kelahiran Jember, 25 Desember 1976 itu menemukan panggilan hidupnya di dunia politik.
Dikenal dengan sapaan Ji Halim, ia menyelesaikan pendidikan strata satu di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Jember.
Selepas kuliah, ia diajak bergabung dengan Gerakan Pemuda Ansor, badan otonom kepemudaan yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama.
Dari ruang-ruang organisasi itulah ia mulai memahami dinamika perjuangan sosial dan kebijakan publik.
Meski kini menjabat Ketua DPRD Jember periode 2024–2029, Ji Halim menegaskan bahwa dirinya tidak berasal dari keluarga politisi.
Lingkungan keluarganya lebih dikenal sebagai pedagang, dengan tradisi aktif di organisasi keagamaan.
“Dari pihak keluarga sebenarnya tidak ada ya, rekam jejak politik. Hanya saja, dari kakek, ayah itu aktif di organisasi ke-NU-an,” kata Halim saat dikonfirmasi Frensia, pada Kamis, 26 Februari 2026.
Baginya, politik adalah medium perjuangan.
Ia memandang jalur legislatif sebagai ruang menentukan arah pembangunan dan kebijakan daerah.
“Karena politik itu adalah salah satu sarana untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat, jalurnya lewat politik, untuk menentukan arah kebijakan atau pembangunan Jember maupun Indonesia ke depan,” tuturnya.
Karier politiknya terbangun secara bertahap.
Ia pernah menjabat anggota DPRD Jember Fraksi PKB periode 2004–2009 dan menjadi salah satu pendiri fraksi tersebut di Jember.
Kiprahnya berlanjut saat dipercaya memimpin KONI Jember periode 2015–2018.
Pada Pemilihan Legislatif 2019–2024, Ji Halim maju melalui Partai Gerindra dan berhasil terpilih sebagai Wakil Ketua DPRD Jember.
Konsistensi itu berbuah kepercayaan lebih besar, hingga akhirnya ia menduduki kursi Ketua DPRD Jember untuk periode 2024–2029.
Saat ini ia juga menjabat Ketua DPC Gerindra Kabupaten Jember.
Dalam membangun pandangan politiknya, Ji Halim menyebut dua tokoh nasional sebagai sumber inspirasi.
Sosok pertama adalah Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Ia mengagumi keberanian dan keluasan visi kenegarawanan Gus Dur.
“Saya terinspirasi beliau (Gus Dur), pemikiran-pemikirannya, terutama pembelaan terhadap kaum minoritas. Kemudian pemikiran jangka panjangnya, terhadap kenegarawan ketika beliau dilengserkan. Waktu itu saya melihat, sosok yang tidak ingin mengorbankan kepentingan yang lebih besar,” kata Halim.
Sementara itu, Presiden RI ke-8, Prabowo Subianto, ia nilai sebagai figur dengan keteguhan dan keberpihakan pada masyarakat kecil.
“Kalau Pak Prabowo, keikhlasannya, termasuk salah satunya yaitu perjuangan beliau untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama masyarakat kecil atau kaum lemah,” tuturnya.
Di tengah agenda legislatif yang padat, Ji Halim tetap melanjutkan pendidikan.
Ia kini tengah menempuh studi magister hukum di Universitas Jember.
“Saat ini juga masih menjalani kuliah S2 (pascasarjana), di magister hukum UNEJ (Universitas Jember),” katanya.
Perjalanan Ji Halim menunjukkan transformasi seorang anak pedagang yang memilih jalur politik sebagai ruang pengabdian.
Dari aktivis organisasi kepemudaan hingga pucuk pimpinan DPRD Jember, ia menapaki setiap fase dengan keyakinan bahwa kebijakan publik harus berpihak pada masyarakat luas.
(Penulis: Tim Redaksi ZONA INDONESIA)












