JEMBER – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Jember resmi menggelar Musyawarah Daerah (MUSDA) ke-XI.
Agenda besar ini bertempat di Gedung BEC Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, Sabtu (4/4/2026).
Rektor UIN KHAS Jember, Prof. Hepni Zain, yang hadir membuka acara tersebut menekankan nilai penguatan peran MUI di masa depan.
Dia berharap MUI tidak sekadar menjadi lembaga formal, tetapi menjadi rujukan nyata bagi masyarakat.
“Optimalisasi peran itu harus ditingkatkan tahun demi tahun, sehingga kemudian keberadaannya betul-betul menjadi kompas kehidupan bagi umat,” kata Prof. Hepni dalam sambutannya.
Lebih lanjut, Prof. Hepni menjabarkan dua poin krusial mengenai posisi MUI di tengah masyarakat Indonesia, yakni sebagai pewaris Nabi, wadah para ulama, maka MUI mengemban amanah besar dalam menjaga nilai-nilai keagamaan.
“Juga sebagai Obor dan Navigator. Mala MUI harus mampu menjadi penerang sekaligus pengarah jalan bagi umat dalam menghadapi berbagai persoalan zaman,” ujarnya.
Di sisi lain, Ketua Umum MUI Jember, KH. Abdul Haris, mengingatkan bahwa jabatan di kepengurusan MUI adalah bentuk pengabdian atau khidmah.
Ia mewanti-wanti agar estafet kepemimpinan berikutnya tidak terjebak pada mengejar prestise semata.
“MUI ini adalah khidmah. Bukan keren-kerenan atau prestisius-prestisiusan. Siapapun yang pada akhirnya akan memimpin di masa mendatang, harapannya koordinasi internal dan soliditas tim tetap dipertahankan,” ungkapnya.
Kiai Haris juga menyoroti realitas unik MUI sebagai lembaga yang tidak memiliki basis massa (umat) secara langsung layaknya ormas Islam.
Hal ini berdampak pada sisi operasional lembaga.
Dia mengungkapkan bahwa selama masa kepengurusannya, dukungan dana yang diperoleh cenderung terbatas dan berbasis pengajuan proposal.
“MUI itu kalau pengurusnya cuma 100 orang di tingkat daerah, ya sudah itu saja (kekuatannya). Maka soliditas pengurus menjadi kunci utama,” tandasnya.
(Penulis: Tim Redaksi ZONA INDONESIA)












